Inilah sekenario Menuju kursi Kekuasaan


Menjelang Momentum Pilkada para petarung sudah mulai Hembus Opini kebaikan kepada masyarakat. Opini positif itu untuk memberi pandangan kepada Masyarakat luas bahwa mencari pemimpin itu harus bisa menjawab kesejahteraan rakyat.

Segala strategi sudah mulai digunakan seperti, mencari hubungan keluarga dan sekaligus mulai menyusun sila-sila keturunan dan lain sebagainnya. Ada banyak yang mengikutinya dan ada juga yang tidak mengikutinya tergantung tawaran yang di janjikan.

Para kandidat yang bakal maju telah merancang sekenario, mulai masuk lewat struktur adat seperti mosalaki dan ada sudah mulai mengumpulkan keluarga besar demi kemenangan dalam pilkada atau pemilu.  Menyusun Sila-sila keturunan itu dengan tujuan agar merauh hati masyarakat atau keluarga untuk mendukung dan memili di kamar TPS yang kurang lebih memakan waktu 5 menit. Setelah selesai Proses itu maka selesailah pula hubungan keluarga kita,dan mengucapkan selamat tinggal. Janji hanyalah tinggal janji untuk menenangkan hati bagi yang memilih.

Semua cara digunakan untuk mendapatkan jabatan dengan masa waktu lima tahun sekali.

Bakal calon yang siap maju, pasti sudah menghitungkan kekuatan uangnya, kekuatan basis masa ,dan ada yang sudah bagi-bagi uangnya demi kerja untuk meloloskan paketnya untuk jadi pengusas serta ada yang hanya sekedar menglaim basis masa rakyat.

Kondisi kesengsaraan rakyat dan kemiskinan rakyat menjadi jualan dalam memenangkan pilkada, tauh betul kesadaran rakyat akan kekurangannya, dalam situasi seperti ini mulai datang dan memberikan carita tentang rekam jejaknya untuk meyakinkan rakyat bahwa mereka benar-benar bejuang demi rakyat.

Tatap muka- tatap muka mulai dilaksanakan dan panggung sekecil apapun yang penting berhubungan dengan orang banyak pasti disitu ada yang mensosialisasikan dirinya  dengan jualan omongkosong  dipakai  untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka pernah berjuang untuk rakyat.  semua ruang dimanfaatkan mulai dari pemasangan baliho, bagi-bagi kartu nama, poster, stiker, dan juga kalender-kelendar, dan lebih anehnya lagi ditempat pembungan kotoran gambar kandidat yang mau maju pasti ada .

Belum lagi yang mulai menyebarkan lewat sms-sms, mulai mengobralkan lewat bantuan-bantuan yang sebenarnya datang dari uang pribadi dan uang negara, karena ambisi untuk mendapatkan kekuasaan maka semuanya itu digunakan.

Bagaimana dengan respon rakyat ? 

Rakyat sekarang karena diajak untuk berpesta pora, semuanya diikuti. mengerti ataupun tidak mengerti yang penting heppy. Kondisi rakyat terlena dengan momentum yang diciptakan oleh penguasa yang ambisi dengan kekuasaan. ada yang memanfaatkan ruang pilkada sebagai peluang kemenangan program dan ada juga yang penting saya dukung, karena hubungan keluarga, kami satu asal, dan kami satu nenek moyang.

Yang lebih parahnya lagi, kepentinga untuk kesehateraan tidak dibicarakan,  yang dibicarakan si kandidat yang mau maju dia itu baik, dia itu tidak korupsi, dia dari banyak partai yang mendukung , pokoknya saya fens dengan kandidat ini... 

Inilah situasinya rakyat dikibuli, ditipu dengan janji, diobralkan dengan strategi untuk membangun rakyat, ada yang mulai dari desa dan ada juga yang mulai dari kota, serta keyakinan dan bayangan untuk keluar dari kemiskinan terus titularkan.
Itulah yang dinamakan politik dan berpolitik.

Rakyat yang tidak tau dengan politik, hanya dijadikan sebagai obyek politik dan meninabobokan dengan pemberian gula-gula yang sebenarnya akan membawa pada kemelaratan dan kemiskinan.

Bagaimana yang harus diperbuat oleh rakyat?  saya meminjam kata-katanya bapak wenseslaus sen, bahwa rakyat harus membangun kekuatannya sendiri, dengan alat politiknya sendiri untuk bisa keluar dari kemiskinan dan ketertindasan.  Dan bagaimana caranya? caranya adalah bergabung lewat organisasi-organiasi rakyat, melalui kelompok-kelomok kerja agar bisa menentukan sikapnya sendiri tentang kesejahteraan khususnya buruh, tani kaum miskin kota, nelayan, mahasiswa pegawai rendahan dan lainnya, jika  bisa mengambil bagian dalam berpolitik maka  rakyat tidak akan dijadikan sebagai obyek politik. Sebab demokrasi di indonesia adalah demokrasi ala penjajah, dan  yang datang dihadapan kita untuk obralkan janji adalah orang-orang titipan penjajah( neokolonialisme )

Rakyat harus sadar dengan keadaan kemiskinannya. jika sadar maka memilih kandidat punya perhitungan bukan karena hubungan keluarga atau hubungan nenek moyang.  karena banyak kejadian menggambarkan bahwa setelah berkuasa,maka yang di iming-imingkan untuk bertemu akan di perhambat dengan mekanisme. bahkan kepentingan rakyat di abaikan yang terpenting adalah bagaimana melayani pengusaha dan  sesama konglomereat. Dengan demikian Rakyat harus penuh perhitungan, karena secara individu  pasti lamban untuk mendapatkan kepentingan, jika kita punya kekuatan yang terorganisir dalam organisasi maka kepentingan untuk perubahan pasti akan dicapai.

Yulius F Mari

Related

OPINI 5551351925031993161

Posting Komentar

KABAR TERKINI

AMAN Gelar Pelatihan Penguatan Kapasitas Infokom

@ Pelatihan Infokom AMAN Jakarta, 9 November 2016 – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Gelar Pelatihan Pengambangan kapasitas In...

IKLAN

item