Inilah sekenario Menuju kursi Kekuasaan
https://gebrakonline.blogspot.com/2016/01/kumpul-keluarga-menjelang-pilkada.html
Menjelang Momentum Pilkada para petarung sudah mulai Hembus Opini kebaikan kepada masyarakat. Opini positif itu untuk memberi pandangan kepada Masyarakat luas bahwa mencari pemimpin itu harus bisa menjawab kesejahteraan rakyat.
Segala strategi sudah mulai digunakan seperti, mencari hubungan keluarga dan sekaligus mulai menyusun sila-sila keturunan dan lain sebagainnya. Ada banyak yang mengikutinya dan ada juga yang tidak mengikutinya tergantung tawaran yang di janjikan.
Para kandidat yang bakal maju telah merancang sekenario, mulai masuk
lewat struktur adat seperti mosalaki dan ada sudah mulai mengumpulkan keluarga
besar demi kemenangan dalam pilkada atau pemilu. Menyusun Sila-sila keturunan itu dengan tujuan agar merauh hati masyarakat atau keluarga untuk mendukung dan memili di kamar TPS yang kurang lebih memakan waktu 5 menit. Setelah selesai Proses itu maka selesailah pula hubungan keluarga kita,dan mengucapkan selamat tinggal. Janji hanyalah tinggal janji untuk menenangkan hati bagi yang memilih.
Semua cara digunakan untuk mendapatkan jabatan dengan masa waktu lima tahun sekali.
Semua cara digunakan untuk mendapatkan jabatan dengan masa waktu lima tahun sekali.
Bakal calon yang siap maju, pasti sudah menghitungkan kekuatan uangnya,
kekuatan basis masa ,dan ada
yang sudah bagi-bagi uangnya demi kerja untuk meloloskan paketnya untuk
jadi pengusas serta ada yang hanya sekedar menglaim basis masa rakyat.
Kondisi kesengsaraan rakyat dan kemiskinan rakyat menjadi jualan dalam
memenangkan pilkada, tauh betul kesadaran rakyat akan kekurangannya, dalam
situasi seperti ini mulai datang dan memberikan carita tentang rekam jejaknya
untuk meyakinkan rakyat bahwa mereka benar-benar bejuang demi rakyat.
Tatap muka- tatap muka mulai dilaksanakan dan panggung sekecil apapun
yang penting berhubungan
dengan orang banyak pasti disitu ada yang mensosialisasikan dirinya
dengan jualan omongkosong dipakai untuk meyakinkan masyarakat bahwa
mereka pernah
berjuang untuk rakyat. semua ruang dimanfaatkan mulai dari pemasangan
baliho, bagi-bagi kartu nama, poster, stiker, dan juga
kalender-kelendar, dan lebih anehnya
lagi ditempat pembungan kotoran gambar kandidat yang mau maju pasti ada .
Belum lagi yang mulai menyebarkan lewat sms-sms, mulai mengobralkan lewat
bantuan-bantuan yang sebenarnya datang dari uang pribadi dan uang negara,
karena ambisi untuk mendapatkan kekuasaan maka semuanya itu digunakan.
Bagaimana dengan respon rakyat ?
Rakyat sekarang karena diajak untuk berpesta pora, semuanya diikuti.
mengerti ataupun tidak mengerti yang penting heppy. Kondisi rakyat terlena
dengan momentum yang diciptakan oleh penguasa yang ambisi dengan kekuasaan. ada
yang memanfaatkan ruang pilkada sebagai peluang kemenangan program dan ada juga
yang penting saya dukung, karena hubungan keluarga, kami satu asal, dan kami
satu nenek moyang.
Yang lebih parahnya lagi, kepentinga untuk kesehateraan tidak
dibicarakan, yang dibicarakan si kandidat yang mau maju dia itu baik, dia
itu tidak korupsi, dia dari banyak partai yang mendukung , pokoknya saya fens dengan kandidat ini...
Inilah situasinya rakyat dikibuli, ditipu dengan janji, diobralkan dengan strategi untuk
membangun rakyat, ada yang mulai dari desa dan ada juga yang mulai dari kota,
serta keyakinan dan bayangan untuk keluar dari kemiskinan terus titularkan.
Itulah yang dinamakan politik dan berpolitik.
Rakyat yang tidak tau dengan politik, hanya dijadikan sebagai obyek politik
dan meninabobokan dengan pemberian gula-gula yang sebenarnya akan membawa pada
kemelaratan dan kemiskinan.
Bagaimana yang harus diperbuat oleh rakyat? saya meminjam kata-katanya
bapak wenseslaus sen, bahwa rakyat harus membangun kekuatannya sendiri,
dengan
alat politiknya sendiri untuk bisa keluar dari kemiskinan dan
ketertindasan. Dan bagaimana caranya? caranya adalah bergabung lewat
organisasi-organiasi rakyat, melalui kelompok-kelomok kerja agar bisa
menentukan sikapnya sendiri tentang
kesejahteraan khususnya buruh, tani kaum miskin kota, nelayan, mahasiswa
pegawai rendahan dan lainnya, jika bisa mengambil bagian dalam
berpolitik maka rakyat tidak akan
dijadikan sebagai obyek politik. Sebab demokrasi di indonesia adalah
demokrasi ala penjajah, dan yang datang dihadapan kita untuk obralkan
janji adalah orang-orang titipan penjajah( neokolonialisme )
Rakyat harus sadar dengan keadaan kemiskinannya. jika sadar maka memilih
kandidat punya perhitungan bukan karena hubungan keluarga atau hubungan
nenek
moyang. karena banyak kejadian menggambarkan bahwa setelah
berkuasa,maka yang di iming-imingkan untuk bertemu akan di perhambat
dengan mekanisme. bahkan kepentingan rakyat di abaikan yang terpenting
adalah bagaimana melayani pengusaha dan sesama konglomereat. Dengan
demikian Rakyat harus
penuh perhitungan, karena secara individu pasti lamban untuk
mendapatkan
kepentingan, jika kita punya kekuatan yang terorganisir dalam organisasi
maka
kepentingan untuk perubahan pasti akan dicapai.
Yulius F Mari
Yulius F Mari

Posting Komentar