Masyarakat Adat Penting mendorong Pendidikan yang Berkarakter
https://gebrakonline.blogspot.com/2016/01/masyarakat-adat-penting-mendorong.html
“Manusia berkarakter dan berbudaya itu akan meliputi: kecintaan
pada kebenaran, berpihak kepada masyarakat yang tertindas, siap berjuang demi kedaulatan negara di segala lapangan kehidupan, berfikiran
kritis-konstruktif, mengabdi kepada kemanusiaan, menjaga sumber kekayaan Alam dan dll.”Bung Hatta.
Pendidikan tak bisa dipisahkan dengan
kehidupan
masyarakat adat. Pendapat inilah yang dianut oleh para penggiat dan penggerak
perjuangan masyarakat adat menuju pengakuan dan perlindungan dari Negera. Bagi mereka, pendidikan
adalah aset dari kehidupan masyarakat adat disebuah bangsa dan digunakan untuk mencapai cita-cita
kolektifnya serta kehidupan yang sejahterah aman damai lahir batin.
Pendidikan memang penting bagi sebuah
bangsa. Dengan pendidikanlah sebuah bangsa membebaskan masyarakatnya dari kebodohan dan
keterbelakangan. Selain itu, tak ada sistem ekonomi dan sistem politik tanpa
didasari sistim pendidikan. Sebab, pendidikanlah yang mengenalkan kita pada
nilai-nilai, mengenalkan keadaan, mengenalkan kita sejarah, mengenalkan kita untuk mengetahui masyarakat adat kita, dan lain-lain.
Kita bisa menengok pada kehidupan
masyarakat adat yang jauh sebelum negara ini di bentuk, apa yang dilakukan oleh
masyarakat adat dalam mempertahankan hidup dan melawan situasi alam yang proses
penakluknya begitu berat. Alangkah cukup cerdas masyarakat adat pada zaman itu
untuk menciptakan semuanya, mulai dari pengetahuan sempai dengan kearifan
budaya. Menurut Ki Hajar Dewantara sendiri mengusulkan lima azas dalam penyelenggaraan
pendidikan: kebangsaan, kebudayaan, kemerdekaan, kemanusiaan, dan kodrat alam.
Jika lima azas ini dipraktekkan, kata Ki Hajar, maka lahirlah manusia yang
benar-benar bisa diharapkan membangun bangsa dan kemanusiaan.
Pendidikan harus melayani kebutuhan masyarakat adat. Karenanya, pelajaran
atau kurikulum pun harus disesuaikan dengan kepentingan masyarakat adat dalam perkembangannya.
Artinya, jika sekarang masyarakat adat sedang membangun, maka lembaga
pendidikan mesti mencetak ‘tenaga pembangunan yang siap membangun daerah dan
kampung halamanya’.
Nah, supaya tanggung-jawab itu bisa
terlaksana, maka pendidikan nasional harus mengutamakan pendidikan karakter dan fokus
landasan dasarnya adalah pendidikan muatan lokal. Mengapa pendidikan muatan lokal harus menjadi
basis utama dalam pengembangan pendidikan nasional, karena pendidikan Lokal
akan fokus bicara terkait membangun kampung atau daerah asal untuk
memberdayakan masyarakat adat menjaga dan mengelolah sumber kekayaan alam untuk
pembangunan kehidupan yang berkelanjutan.
Jika dilihat, pendidikan nasional saat ini model dorongannya adalah
menciptakan dan mengelolah potensi yang ada di setiap daerah maka, dengan sendirinya
kemajuan suatu bangsa akan tercapai di depan pintu kemerdekaan sesuai dengan
landasan dasar negara ini.
Belajar dari situasi sekarang ini
lembaga pendidikan mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi tidak mengenal
lagi yang nama pendidikan muatan lokal. Pendidikan muatan lokal adalah penting
karena disanalah akan di terapkan pengetahuan berkarater, nilai-nilai budaya,
kearifan-kearifan budaya, dan pendokumentasi semua sumber kekayaan budaya
masyarakat adat demi generasi penerus untuk tetap mempertahankan. Pendidikan
Muatan lokallah yang mampu membendung budaya-budaya asing yang saat ini masif
menggrogoti kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, semestinya pendidikan
Nasional harus menghidupkan kembali kurikulum muatan lokal, dan mulai di
terapkan dilembaga pendidikan khsusnya lembaga Universitas agar generasi
Indonesia bisa mengerti dan menjaganya.
Menurut
Bung Hatta,
tujuan universitas tidaklah semata-mata mendidik orang untuk ilmu pengetahuan,
tetapai juga untuk mendidik karakter. “Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang
yang cerdas dan tajam otaknya, tetapi manusia yang berkarakter tidak bisa
diperoleh begitu saja,” kata Bung Hatta.
Bung Hatta sendiri menganggap
“mempertinggi karakter dan moral” sebagai tugas pokok pendidikan nasional
bangsa yang baru merdeka. Sebab, pendidikan karakter itulah yang membebaskan
sel-sel otak murid dari fikiran kolot, rendah diri (inferior-complex), dan
berfikir diri sendiri.
Penting Pendidikan muatan Lokal
Manusia berkarakter dan berbudaya itu akan meliputi: kecintaan pada
kebenaran, berpihak kepada masyarakat yang tertindas, siap berjuang demi kedaulatan
negara di segala lapangan kehidupan, berfikiran
kritis-konstruktif, mengabdi kepada kemanusiaan, menjaga sumber kekayaan Alam dan
dll.
Situasi sekarang Ini pendidikan kita dilema dalam proses penerapan
metode yang tepat untuk peningkat kualitas pembangunan suatu bangsa. Sistem pendidikan
nasional, yang makin tunduk pada ideologi pasar, makin menjauh dari kepentingan
masyarakat apa lagi masyarakat adat dan
negara. Pendidikan nasional tak lagi menghasilkan manusia yang berbudaya
sebab kurikulum muatan lokal sudah di hilangkan. Hasilnya, kita punya banyak ahli atau pemikir
di segala bidang, tetapi sangat sedikit yang berdedikasi kepada negara dan
rakyat atau kembali ke kampung halaman tempat asal muasal dan mulai membangun
perubahan di kampung itu .
Lihat saja ekonom-ekonom kita terjebak pada
budaya asing.
Banyak diantara mereka yang menimbah ilmu ekonomi di luar negeri. Namun, ketika
mereka menjadi pejabat negara, kebijakan mereka justru menghancurkan ekonomi
nasional dan ekonomi kampung sehingga memiskinkan masyarakat terus meningkat. Mereka punya gelar tinggi dan faham
teori-teori ekonomi yang sebenarnya belajar dari situasi kehidupan
masyarakat adat. Namun, corak berfikir mereka belum lepas dari “economische
minderwaardigheid”, yaitu penyakit orang yang selalu merasa rendah diri dalam
perekonomian.
Ada beberapa persoalan di sini.
Pertama, proses penyelenggaran pendidikan kita sudah bergeser dari semangat
pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadi semangat
melayani kepentingan akumulasi keuntungan.
Kedua, kurikulum pendidikan tidak
lagi disandarkan pada kebutuhan masyarakat . Yang terjadi, kurikulum disusun
sesuai dengan kepentingan pasar tenaga kerja dan kebutuhan industri kapitalis.
Ketiga, Kurikulum muatan lokal yang
sentuhannya langsung pada peningkatan kecerdasan masyarakat adat dihapuskan dan
membiarkan anak negeri lebih fokus mengenal budaya asing Akhirnya, banyak pengetahuan yang dikembangkan
di universitas tidak bisa menjawab problem konkret masyarakat lebih
khususnya masyarakat adat yang mempunyai sumber kakayaan alam.
Ke Empat, proses penyelenggaraan
pendidikan nyaris tanpa partisipasi dan keterlibatan masyarakat Luas. Tembok-tembok
universitas dibangun tinggi-tinggi untuk memisahkan kehidupan kampus dan
masyarakat di sekitarnya. Akibatnya, lembaga-lembaga pendidikan seperti
terisolasi dari masyarakat. Sebagian besar lembaga pendidikan di Indonesia itu bak
menara gading di tengah-tengah masyarakat.
Keempat, banyak pejabat Universitas di
Indonesia bermental Inlander. Ini terlihat, misalnya, pada semangat
“asingisasi” perguruan tinggi. Mereka bangga jika kampusnya mendapat kategori
“world class University”. Ironisnya, internasionalisasi pendidikan hanya
dimaknai sekadar penggunaan bahasa asing (Inggris) dalam pengantar kuliah di
daerah-daerah pun juga menggunakan semangat asingisasi bahasa lokal pelan-pelan
di hilangkan. Sedangkan
corak dan kedalaman ilmunya masih tetap terbelakang.
Kelima, pendidikan nasional sekarang
sangat diskriminatif, segmentatif, dan banyak pengecualian terhadap
masyarakat adat. Orang-orang yang bisa mengenyam pendidikan hanyalah orang yang sanggup
membeli atau membayar mahal. Ini akibat bekerjanya ideologi pasar dalam dunia
pendidikan nasional.
Keenam, pendidikan nasional saat ini
sangat alergi dengan fikiran-fikiran kritis dan emansipatoris. Akhir-akhir ini
kita sering menyaksikan keputusan pejabat universitas mend-DO
mahasiswa-mahasiswa kritis yang berpikir tentang kedaulatan negara . Juga, tak sedikit
universitas yang alergi dengan pergerakan mahasiswa.
Kekayaan terbesar suatu bangsa
terletak pada pengetahuan masyarakat adat. Karena itu, sesuai dengan pembukaan
UUD 1945, pendidikan nasional harus bisa mencerdaskan kehidupan bangsa.
Mencerdaskan di sini tak bisa dimaknai sekedar punya “ilmu pengetahuan”, tetapi
juga harus punya keberpihakan dan keterlibatan dalam pembangunan bangsa. Karena
itu, mutlak kurikulum itu harus menekankan agar siswa bisa berfikir kritis,
faham akan realitas sosial di sekitarnya, dan punya tanggung jawab moral bagi
perjuangan masyarakat adat dan bangsanya.
Masyarakat adat yang menjadi penyangga
bangsa ini dan sudah menciptkan semua pengetahuan akan tetapi Pendidikan yang
fokus mengenal masyarakat adat dan kearifannya tidak di terapkan, bahkan di
hilangkan oleh sitem kurikulum Nasional. Oleh karena itu dengan semangat Pengakuan
dan Perlindungan Terhadap Hak-Hak Masyarakat Adat maka, pendidikan Nasional Indonesia
harus mempunyai kurikulum khusus terkait masyarakat adat agar kehidupan dan
budayanya terus di pertahankan untuk Ribuan
tahun yang akan datang. *** Sekian
Oleh : Jhuan Mari
Posting Komentar