Harus Bangga Menjadi Orang Kampung
https://gebrakonline.blogspot.com/2016/05/harus-bangga-menjadi-orang-kampung.html
Itulah judul tulisan
saya di pagi hari ini. Saya dilahirkan dan di besarkan di kampung. Bagi saya
ketika kita mempunyai kampung sebenarnya kita mampu mengenal identitas kita,
kita akan mengenal asal usul kita dan kita mengenal nilai kehidupan sosial yang
ada disekitar kita.
| Kita sedang besama orang tua di kampung |
Sangat kita rasakan
kalau kita berada di kampung, hidup kita jadi aman damai dan kita sangat dekat
dengan sesama saudara kita, keluarga kita dan alam kita. Kita tidak merasakan
kelaparan, kita hidup damai. Sebab leluhur kita telah menyiapkan kehidupan yang
terbaik bagi kita.
Di kabupaten Ende
banyak orang mengenal dengan sebutan Nua Orha, Nua ola dan Mboa. Dan saya
dahulu waktu kecil di besarkan di nua ini ( kampung), dan sama hal juga dengan
yang lainnya. Saya mengenal sesama keluarga dan leluhur itu yaitu di kampung. Saya juga mengenal dan mengerti arti dari
nilai baik seperti menolong sesama, hidup bergotong royong, bersolidaritas dan
lainnya adalah di kampung. Saya juga
mengenal akan nilai yang utama seperti kesopanan, cinta kasih dan berbudi baik
hanyalah di kampung. Dan didalam
kampunglah semuanya di ajarkan. Saya dan kita semua yang mempunyai kampung
pasti merasakan hal itu. Hidup toleransi ada di kampung, hidup mentaati aturan
hukum juga di ajarkan di kampung dengan mentaati hukum adat.
Disisi yang lain saya
juga melihat sumber kebutuhan ekonomi hanyalah ada di kampung, karena disanalah
petani bangun pagi ke kebun dan bekerja. Semua kebutuhan pangan ada dan
mencukupi kehidupan .
Saya sendiri adalah
orang kampung maka saya pasti mengenal semua yang ada di dalam kampung cerita orang tua tentang kebaikan dan
kebenaran.
Di kampung juga di
ajarkan kita mengenal yang namanya musyawara mufakat, kita juga mengenal yang
namanya ekonomi rakyat yang sifat barter. Dan bagi saya semua pengetahuan
tentang apapun ada di dalam kampung.
“Kita harus bangga menjadi orang kampung bukan kampungan”( Philipus kami).
Menurutnya bahwa orang
kampung adalah orang yang berkarakter, orang yang menciptakan peradaban, orang
yang memiliki segalanya dalam menjaga alam dan memanfaatkannya. Jadi kalau
orang kampungan adalah orang yang lupa pada kampungnya, orang yang
mengkianati kampungnya, dan orang yang
tidak mempunyai identitas yang jelas, primitif, sempit pemikirannya.
Sebenarnya kita sudah
di ajarkan oleh orang tua dan leluhur kita tentang pendidikan, seperti menjaga
alam, mengelola sumber daya alam dan mengenal nilai-nilai sosial budaya . Bagi
saya pendidikan dasar itu sudah tertanam
sejak kecil di kampung. Dan pendidikan seperti itu ada dalam diri kita, Menjadi
contoh orang tidak berpendidikan seperti yang di ajarkan pendidikan formal saat
ini bisa melakukan hal-hal yang di
ajarkan di dunia pendidikan formal. Mereka bisa mengelola SDA, mereka
menjalankan nilai-nilai baik kehidupan sosial, dan mereka mampu bermsyawara,
mereka juga mampu untuk memimpin dan merekan juga mempu untuk menciptakan apa
yang di ajarkan leluhur ( dalam hal jiwa seni ).
Saat ini menurut saya
kampung adalah sember segalanya dari semua kebutuhan hidup manusia. Yang
menjadi kategori kampung yaitu memiliki wilayah yang di jaga secara bersama,
mempunyai pemukiman warga masyarakat, mempunyai sejarah asal –usul yang menggambarkan
keberadaan manusia itu sendiri, mempunyai sistem hukum adat, sistem sosial
dan sistem budaya.
Alasan saya mengapa
menjadi sumber segalannya sebab disanalah manusia hidup dan berkembang dan mampu memberikan hidup bagi orang lain
yang hidup di kota.
Orang yang hidup di
kota sebenarnya di hidupkan oleh orang yang bekerja di kampung. Dan bagi saya
kita harus bangga menjaga dan membangun kampung kita. Sebagian besar kita yang
hidup di kota sebanarnya mempunyai sejarah asal usul dari kampung.
Kalau saya analogikan
bahwa masyarakat di kampung adalah orang tua dan masyarakat yang hidup di kota
adalah anaknya. Jadi jangan sekali-kali kita melupan orang tua di kampung.
Semua orang yang berada di kota sebananya anak-anak dari kampung.
Saat ini ketika anak
tumbuh dan dewasa, mulai tidak mengakui lagi orang tuanya, tidak menghormati
lagi orantuanya yang melahirkan dan membesarkannya. Bahkan di tudu sebagai
orang yang primitif, kolot, terpinggirkan dan mulai merampas dan menjualnya,
begitulah analogi saya.
Jadi saat ini perluh
kita sadari bahwa pulang dan membangun kampung itu adalah bagian dari kita
mengabdi kepada orang tua. Membangun dari kampung bukan hanya untuk
menyenangkan hati orang tua di kampung
dan ujung-ujungnya menipu.
Orang tua di kampung
–kampung sudah mengajarkan nilai kebenaran dan kejujuran. Dan nilai itu sudah
di tanam sejak kecil oleh orang tua.
Kita yang berasal dari
kampung sebanrnya harus bangga karena
kita masih punya kampung. Kita tidak boleh malu mengatakan kalau kita adalah
orang kampung. Orang kampung bukan orang yang primitif, kolot, terpinggirkan.
Akan tetapi orang kampung adalah orang yang
benar, orang yang pintar dan orang berkarater.
Jika saat ini dia tidak
mempunyai kampung sebenarnya ia lupa terhadap orang tuannya dan lupa
identitasnya dari mana ia berasal.
Untuk kaum muda yang
berasal dari kampung mulailah kita bersama-sama membangun kampung kita. Wilayah
adat kita hurus kita jaga, sumber daya alam kita harus di jaga. Sebab negara
hari ini mengajarkan kita untuk meninggalkan kampung kita dan pergi menjau dari
kampung kita. Negara saat ini dengan
alat kekuasaannya masih mengikuti watak penjajah. Bentuk pembangunannya
bersifat eksploitasi dan diskriminasi. Negara belum membangun sesuai dengan
karakter ketimuran kita yang menjujung tinggi kebinekaan tunggal ika.
Pendidikan yang di
fasiltasi oleh negara hanya untuk kita melupakan kampung, menindas dan
menciptakan kita menjadi konsumtif . Tujuan membentuk sebua negara hanya
sebagai alat untuk merapas tanah dan sumber daya alam kita dan menghilangkan
budaya dan adat istiadat kita. Sistem pendidikan yang diciptakan negara hanya
untuk kita menjadi kuli di tanah kita
sendiri. Kita akan terisikan di kampung kita sendiri, kita akan melupakan identitas
kita sendiri. ***
Oleh : Yulius Fanus
Mari.
Posting Komentar